Just be myself, do the best, think positive, and keep praying for his guidance, because only Allah who know the best for us..

Senyum…

Ia sederhana, tapi dahsyat luar biasa.
Ia kecil, tapi bermakna raksasa.
Ia mudah, tapi sangat berharga.
Karenanya,….
Tersenyum lah
Nikmati keajaiban-keajaiban dalam hidup anda.
Dan…
Bagikanlah keajaiban bagi hidup sesama kita.

Tersenyum, betapa mudahnya hal ini dilakukan. Hanya butuh sedetik untuk merubah bentuk bibir menjadi senyum. Dan hanya butuh tujuh detik mempertahankan sang senyum untuk terlihat sebagai ungkapan ketulusan hati.
Tetapi kenapa hal sederhana ini jarang terlihat? Senyum itu sudah hilang dari wajah banyak orang. Entah kenapa senyum – bahkan tawa – yang selalu cerah menghiasi wajah-wajah itu dari kecil, sirna begitu saja. Sekarang, bahkan bukan hanya wajah-wajah tua dan dewasa yang telah kehilangan senyum manis. Wajah para remaja dan anak-anak pun telah ketularan kerutan-kerutan penuh beban itu.

Senyum pada hakikatnya adalah salah satu anugerah indah dari Tuhan Yang Maha Indah. Hidup dan kehidupan manusia pun akan lebih indah dan menenteramkan bila kita menemui banyak senyum di sekeliling kita. Terutama sang senyum dari wajah kita sendiri. Bukankah sangat enak bila kita menerima senyum? Dan bukankah jauh lebih enak bila kita lah yang memberi senyum?

Sang senyum – lengkungan yang menurut Pak Gede Prama bisa meluruskan banyak hal – adalah hal yang luar biasa. Ia seperti oase di tengah gurun pasir. Ia seperti setetes air jernih dari mata air yang bisa menghilangkan dahaga. Ia seperti udara bagi yang tercekik. Ia seperti sumbangan uang bagi fakir miskin yang dirawat di rumah sakit. Ia seperti mangga muda bagi ibu muda yang sedang ngidam. Ia seperti pinjaman uang bagi yang sedang membutuhkan. Ia juga seperti semangkuk mie instan bagi pengungsi yang kelaparan.

Senyum pada hakikatnya adalah kebutuhan manusia. Siapa yang senang tersenyum membuat jiwa, perasaan, pikiran dan fisiknya terpenuhi salah satu kebutuhannya. Bila manusia tidak senang tersenyum, ada luka di jiwa, rasa dan pikirnya. Sang jiwa yang terluka membuat hidup dipenuhi kegelisahan. Sang rasa yang terluka membuat hidup tidak tenang. Sang pikir yang terluka membuat hidup penuh beban.
(dari seorang sahabat)

Iklan

Dalam sebuah perjalanan seorang ayah dengan puteranya, sebatang pohon kayu nan tinggi ternyata menjadi hal yang menarik untuk mereka simak. Keduanya pun berhenti di bawah rindangnya pohon tersebut.
“Anakku,” ucap sang ayah tiba-tiba. Anak usia belasan tahun ini pun menatap lekat ayahnya. Dengan sapaan seperti itu, sang anak paham kalau ayahnya akan mengucapkan sesuatu yang serius.
“Adakah pelajaran yang bisa kau sampaikan dari sebuah pohon?” lanjut sang ayah sambil tangan kanannya meraih batang pohon di dekatnya.
“Menurutku, pohon bisa jadi tempat berteduh yang nyaman, penyimpan air yang bersih dari kotoran, dan penyeimbang kesejukan udara,” jawab sang anak sambil matanya menanti sebuah kepastian.

“Bagus,” jawab spontan sang ayah. “Tapi, ada hal lain yang menarik untuk kita simak dari sebuah pohon,” tambah sang ayah’ pohon yang juga makhluq Allah, namun memiliki kejuangan hidup yang sangat tinggi dan tidak pernah ada pohon yang bunuh diri atau mengakhiri hidupnya karena merasa tak berguna/putus asa, tapi sebaliknya manusia yang punya akal & iman, sering merasa putus asa, merasa tidak berguna dan akhirnya bunuh diri.

Pohon itu dalam menjalani hidupnya tidak pernah ‘mengeluh’, mau kemarau atau hujan selalu ‘men-syukuri’ nikmat Allah SWT, dan pohon juga tak pernah mengharapkan sesuatu dari lingkungan sekitarnya dan makhluk lainnya, dia selalu ‘memberi’ tanpa minta ‘balasan’ apapun, tapi manusia selalu saja mengeluh bila merasa kecewa, bahkan sering ber-prasangka buruk kepada Allah atas kekecewaan yang dialaminya, dan selalu menuntut kepada makhluk lain guna memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan pengrusakan-pun dilakukan tanpa belas kasihan dan tidak memikirkan akibatnya, bila sudah kekurangan air/kemarau panjang atau kebanjiran, baru kebingungan dan kadang tetap menyalahkan lingkungan yang tidak mau ramah lagi seperti biasanya.

Padahal hidup itu semuanya membutuhkan keseimbangan, saling membutuhkan, saling memberi dan saling mengasihi.
“Perhatikan ujung pepohonan yang kamu lihat. Semuanya tegak lurus ke arah yang sama. Walaupun ia berada di tanah yang miring, pohon akan memaksa dirinya untuk tetap lurus menatap cahaya,” jelas sang ayah.

“Anakku,” ucap sang ayah sambil tiba-tiba tangan kanannya meraih punggung puteranya. “Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran,” ungkap sang ayah begitu berkesan.
**
Keadaan tanah kehidupan yang kita pijak saat ini, kadang tidak berada pada hamparan luas nan datar. Selalu saja ada keadaan tidak seperti yang kita inginkan. Ada tebing nan curam, ada tanjakan yang melelahkan, ada turunan landai yang melenakan, dan ada lubang-lubang yang muncul di luar dugaan.

Sudahkah kita menyadarinya…?

Mari kita selalu belajar dan terus belajar tentang kehidupan ini melalui semua ciptaan Allah SWT, maka kita akan melihat begitu besarnya kuasa Allah atas semua kehidupan makhluqNya, yang selalu memberikan kasih dan sayangNya, seperti dalam kalimat Basmallah; “Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Ada seorang pemuda pecinta alam yang terjatuh ke jurang. Namun beruntung ia berhasil meraih sebuah akar pohon yang mengelantung di bibir jurang. Dalam ketakutannya, sebagai orang yang beriman, ia berteriak,”Tuhan tolong aku!!!
Dan Tuhan menjawab,”Percayalah kepadaKu. Aku aku menolongmu. Lepaskanlah peganganmu!”
Pemuda itu cilingak-cilinguk dan berpikir sejenak, lalu berteriak, “Tolooooooooong! Apa ada orang yang bisa menolong aku!!!” (Ada waktu untuk tertawa, Metanoia 2004)

Sungguh menyentilkan ceritanya?! Mungkin itu adalah gambaran yang tepat bagi kita yang katanya percaya pada Tuhan dalam kata-kata dan doa. Kita yakin bahwa Tuhan akan selalu menolong segala kesusahan, tetapi tak jarang dalam kenyataannya justru kita juga meragukanNya.
Mendapatkan materi dengan cara tidak benar, korupsi, menipu, mengurangi timbangan, menjual barang palsu, dan cara salah lainnya, bukankah termasuk bahwa kita tidak percaya padaNya?
Begitu halnya ketika dalam kesusahan, tak jarang juga kita lebih meminta pertolongan dan mengandalkan manusia dengan segala pembenarann daripada mengandalkan Tuhan.

Kebenarannya, Tuhan memang tidak pernah tidur, karena Ia selalu terjaga dan memelihara alam semesta. Tuhan tidak akan pernah lelah walaupun Ia tidak pernah tidur, karena Tuhan memang tidak butuh. Ia tiada awal dan tiada akhir. Selamanya ada dan abadi. Ia akan selalu menjaga kita semua setiap saat. Pada saat kita tidurpun Ia ada disamping terus terjaga. Tuhan memang tidak pernah tidur. Itulah kebenarannya. Namun sayang, kita yang sering menidurkan Tuhan. MembuatNya terlelap, sehingga kita bebas berbuat apa saja. Ini juga adalah kebenaran yang sering terjadi. Kita percaya dan yakin Tuhan tidak pernah tidur, tetapi justru kita Yang membuatNya tertidur, sehingga membuat kita bebas berbuat kesalahan. Bahkan mungkin sudah terlalu lama kita menidurkan Tuhan. Karena masih asyik dalam dosa dan kesesatan. Kita memang aneh, percaya bahwa Tuhan tidak pernah tidur, namun kita juga percaya seakan-akan Tuhan itu tertidur lelap. Karena itu kita segera beraksi berbuat apa saja yang dilarang Tuhan….

Menikmati kebosanan

Kebosanan adalah ‘penyakit’ yang kita timbulkan sendiri. Ini adalah sebuah cerita ringan tentang kebosanan. Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya, “Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, pak tua?”

Pak Tua: “Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan,mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.”

Tamu: “Kenapa kita merasa bosan?”

Pak Tua: “Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki.”

Tamu: “Bagaimana menghilangkan kebosanan?”

Pak Tua: “Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya.”

Tamu: “Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”

Pak Tua: “Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?”

Tamu: “Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua.”

Pak Tua: “Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.”

Tamu: “Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?”

Pak Tua: “Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya.” Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi dan berkata, “Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?”

Pak Tua: “Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan.”

Tamu: “Contohnya?”

Pak Tua: “Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu.”

Lalu Tamu itu pun pergi. Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.

Tamu: “Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?”

Sambil tersenyum Pak Tua berkata: “Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran, berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.”

Siapa yang tidak mau menerima yang namanya hadiah atau sering disebut dengan nama kado. Kado identik dengan suatu hal yang sangat dinanti-nanti kedatangannya dan biasanya diberikan karena ada suatu hal yang spesial dan pastinya sangat indah saat membukanya. Sedangkan ujian identik dengan suatu hal yang menakutkan, mencemaskan, keluhan, dan segala hal yang beraroma negatif lainnya. Siapa juga sih yang mau menerimanya??

Sekarang bayangkan bila kita melulu menggunakan kata ujian saat diterpa kepahitan. Boro-boro kepikiran buat mencari hikmah, yang ada kita malah terpaku dengan kesulitan tersebut. Yang akhirnya kita merasa menjadi orang yang paling susah sedunia. Padahal kalau kita mau berpikir jernih dan menjabarkan segala peristiwa yang terjadi, sesungguhnya ujian itu kadarnya hanya setitik bila dibandingkan pembelajaran yang kita dapatkan. Ya, nikmat TUHAN jauh lebih besar bukan?

Kalau menggunakan kata kado gimana? Satu hal yang membuat kado itu menjadi indah adalah pada saat proses mengupas bungkusnya. Di sana akan timbul berbagai rasa, mulai dari rasa deg-degan, penasaran, was-was, senang, semua membuncah jadi satu sampai akhirnya kita melihat isinya. Bilapun nanti isinya di luar angan, pasti sudah tersembul rasa syukur bahwa kita telah diberi suatu hal yang gratisan.

Begitupun kala kita menghadapi pernik kehidupan. Jika mau dipikir lebih jauh, bukankah kita sedang berproses dalam membuka kado? Bungkus kado itu tidak selamanya satu lapis dan juga tidak selamanya tampilan bungkusnya sama dengan kualitas isinya. Ada yang luarnya bagus tapi diikuti dengan lapisan-lapisan kertas kado yang jelek dan berakhir dengan isi yang bagus. Ada yang luarnya jelek tapi dalamnya bagus. Adapula dari bungkus sampai isinya bagus dan ada juga yang bungkusnya jelek, isinya jelek juga (kalau begini delon deh jadinya, alias derita loe sendiri… hehe). Bila analogi tersebut ditampilkan dalam kehidupan maka kejadiannya akan seperti ini: hidup itu tidak selamanya enak, pada titik tertentu ada rasa eneg yang muncul ke permukaan. Di sini tugas kita mencontreng salah satu jawaban dengan konsekuensi khas yang mengikutinya: lari dari kenyataan atau lari kepada TUHAN?

Lari dari kenyataan akan menobatkan kita menjadi manusia yang kerdil, kalah, dan manusia yang hanya berani membaca soal tapi tidak berani melukiskan jawaban. Apalagi lari dari kenyataannya sampai mengakhiri hidup segala… nau’udzubillah min dzalik. Lari kepada TUHAN akan menjadikan kita orang yang berani membaca soal, berani melukiskan jawaban, sekaligus mempunyai kekuatan untuk menggrafir hikmah di hati dan langkah.

Dengan demikian, masihkah kita mau melabeli diri kita menjadi orang paling susah? masih terpikirkah untuk membaui hati kita dengan keluhan yang melemahkan? masih tegakah mulut kita untuk mencaci segala kegagalan? dan pastinya gak ada lagi ruang di jiwa kita untuk melagukan “aku tak sanggup lagi menerima derita ini. aku taksanggup lagi menerima semuanya…”

Siapa bilang 1 itu kecil?
1 senyuman memulai sebuah pertemanan
1 tepukan di pundak,mampu memompa semangat
1 langkah jadi awal sebuah perjalanan panjang
1 kata mengawali sebuah doa
1 saudara sepertimu, bagiku sangat berarti kawan (^_*)

1 hal yang buat kita bahagia adalah cinta.
1 hal yang buat kita dewasa adalah masalah.
1 hal yang buat kita hancur adalah putus asa.
1 hal yang buat kita maju adalah usaha.
1 hal yang buat kita kuat adalah doa.

Angka 1 memiliki arti yang luar biasa. Walaupun angka terkecil (karena semua hitungan dimulai dari angka 1), tetapi angka 1 sangat besar artinya. Angka 1 dapat menggambarkan sesuatu yang tunggal dan unik karena tak tergantikan, misalnya kalau kita menyebut sesuatu hanya ada 1 di dunia. Angka 1 juga melambangkan banyak hal positif misalnya; kesatuan, kebersamaan, sang juara, dan lain sebagainya. Tak heran jika angka 1 juga kerap digunakan dalam sebuah misi khusus dan istimewa.

Dalam hal tindakan untuk mencapai tujuan positif entah dalam karir, bisnis, keluarga, kehidupan spiritual, sosial, intelektual, dan lain sebagainya, angka +1 juga penting. Coba saja tambahkan 1 tindakan positif setiap harinya, sesuai tujuan yang Anda maksud. Pasti suatu saat tambahan-tambahan 1 aktifitas positif & sederhana itu berdampak luar biasa dalam kehidupan Anda.

Angka +1 memang memiliki kekuatan yang luar biasa, membangun kehidupanmenjadi lebih berkualitas dalam arti berhasil dalam kehidupan materi, berarti bagi diri sendiri dan orang lain, hidup bahagia dan penuh kedamaian. Tetapi kekuatan angka +1 tersebut hanya ada jika kita konsisten melakukan seluruh hal positif yang ditambahkan dalam aktifitas keseharian itu. Jika Anda semakin konsisten menambahkan dan melaksanakan 1 hal positif, semakin mudah Anda mendapat kehidupan ideal yang Anda dambakan.

Coca cola dalam renungan


Ada 3 kaleng coca cola, ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama.
Ketika tiba harinya, sebuah truk datang ke pabrik, mengangkut kaleng-kaleng coca cola dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian.

Pemberhentian pertama adalah supermarket lokal. Kaleng coca cola pertama diturunkan di sini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya yang diberi harga Rp.4.000,00.

Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di sana, kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp.7.500,00.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah. Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana. Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan. Dan ketika ada yang pesan, kaleng ini dikeluarkan bersama dengan gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu, menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp.60.000,00.

Sekarang, pertanyaannya adalah : Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama?
Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda. Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP.
Apabila Anda berada di lingkungan yang bisa mengeluarkan terbaik dari diri anda, maka Anda akan menjadi cemerlang. Tapi bila Anda berada di lingkungan yang meng-kerdil- kan diri Anda, maka Anda akan menjadi kerdil.
Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama + lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA

Awan Tag